Kamis, Desember 24, 2009

25 Desember 2008

Hari ini tepat setahun yang lalu, 25 Desember 2008, pagi hari, saya bersama dua orang sahabat sekantor beranjak ke bandara mutiara di kota Palu untuk terus melanjutkan perjalanan menuju kehangatan keluarga di tanah kelahiran masing-masing.

Bang zili, tetangga kontrakan yang telah menjadi saudara fiLLah, akan menghabiskan liburan akhir tahunnya di palembang, berkumpul kembali dengan istrinya yang tengah mengandung anak pertama mereka. Padahal baru lebaran kemarin sahabatku ini pulang, ternyata kerinduan dengan sang istri mampu mengalahkan apa pun, termasuk ongkos pesawat Palu-Palembang yang rata-rata tarifnya Rp2 juta sekali jalan, yang berarti dia harus menganggarkan dana minimal Rp4 juta sekali pulang hanya untuk tiket pesawat saja, belum lagi dia harus transit 2x di bandara hasanuddin (makassar)/ juanda (surabaya) dan soekarno-hatta (jakarta) sebelum naik pesawat berikutnya ke palembang. Memang luar biasa sahabatku ini, sahabat yang baru saya kenal setahun belakangan.

Sahabat kedua yang juga ikut bersama kami adalah mbak Diah, seorang calon ibu yang tengah hamil muda anak pertamanya. Sama dengan saya, mbak diah tinggal di jakarta, lebih tepatnya di tangerang. Sesampainya di bandara soekarno-hatta rencananya dia akan dijemput suami yang belum setahun dia nikahi. Mbak Diah dan suaminya terpaksa pisah rumah karena suaminya harus kerja di jakarta dan dia kerja di palu.

Ada banyak kesamaan di antara kami. Pertama, kami bertiga adalah perantau murni tanpa ada saudara senasab di palu. Kedua, kami bertiga adalah anggota organisasi "BuLok" (bujang lokal) ^_^, istilah untuk pegawai yangg terpisah pulau dengan pasangannya. Saya sendiri baru menjadi bulok lagi setelah lebaran kemarin, setelah zahid dan umminya dimigrasi ke jakarta. dan Ketiga, kami sama-sama nekat. Kenapa nekat, karena kami sangat terpaksa memboloskan diri selama dua hari setelah surat cuti kami yang sebenarnya sudah ditanda tangani kepala kantor dibatalkan secara sepihak oleh surat edaran kantor pusat yang melarang cuti. Padahal waktu-waktu seperti ini adalah waktu yang secara itung-itungan cost & benefit sangat positif. Bayangkan, dengan cuti dua hari, kami bisa liburan di rumah selama hampir dua pekan. Tapi anehnya kantor kami selalu melarang cuti dilakukan pada waktu-waktu strategis seperti itu. Akibatnya selama bekerja tiga tahun, saya belum sekalipun menggunakan jatah cuti saya, karena dari januari sampai september adalah waktu yang tidak boleh ditawar-tawar untuk bekerja, sebulan dinas-sebulan buat laporan, begitu seterusnya.

. . .

Bagi saya sendiri 25-12-08 adalah bagian dari hari bersejarah. Hari itu insya Allah adalah hari perpisahan dengan pulau yang telah setia menampung selama +2 tahun. Ya, hari itu saya akan migrasi ke kampung tercinta untuk kembali melanjutkan pendidikan formal di kampus STAN (lagi).

Yang agak menggilakan dan menggelikan adalah hari itu saya akan pindahan naik pesawat! 4 kerdus XXL berisi buku, barang2 rumah tangga sampai mainan2 zahid, 1 backpack berisi laptop dan surat2 penting, dan 1 tas carrier ukuran 80 ltr yang penuh berisi baju. Sangat merepotkan memang, saran saya don't try it, tapi jika suka tantangannya, tidak ada salahnya dicoba.

Sebenarnya awalnya saya juga tidak berpikir untuk pindahan dengan membawa barang-barang ke dalam pesawat. Beberapa hari sebelum berangkat saya sudah survey ke kantor pos untuk memaketkan barang-barang tadi. Namun, atas saran dua sahabat saya ini akhirnya dilaksanakan ide aneh ini, mereka merasa sayang membiarkan jatah bagasi 20 kg mereka tidak dimanfaatkan. Dan akhirnya dimulailah acara pindahan via pesawat ini.

. . .

Sebenarnya ingin cerita lebih banyak lagi, tapi kayaknya sudah kepanjangan nulisnya, insya Allah lain waktu saya lanjutkan ...

selengkapnya...

Jumat, Desember 04, 2009

Like Father Like Son

Sesaat setelah menguburkan khalifah sebelumnya, Sulaiman bin Malik, khalifah Umar bin Abdul Aziz (tokoh pemimpin yang bergelar khulafa Rasyidin yang kelima karena keadilannya) beristirahat merebahkan diri. Tapi baru saja ia merebahkan badannya, seorang pemuda berusia tujuh belasan tahun datang menghampirinya dan mengatakan, "Apa yang ingin engkau lakukan wahai Amirul Mukminin?" Khalifah menjawab, "Biarkan aku tidur barang sejenak. Aku sangat lelah dan letih sehingga nyaris tak ada kekuatan yang tersisa."

Namun pemuda itu tampak tidak puas dengan jawaban tersebut. Ia bertanya lagi, "Apakah engkau akan tidur sebelum mengembalikan barang yang telah diambil secara paksa kepada pemiliknya, wahai Amirul Mukminin?" Khalifah mengatakan, "Jika tiba waktu dzuhur saya bersama orang-orang akan mengembalikan barang-barang tersebut kepada pemiliknya."

sang pemuda pun kemudian menanggapi dengan sebuah pertanyaan yang menyentak hati khalifah Umar bin Abdul Aziz, "Siapa yang menjaminmu hidup sampai setelah dzuhur, wahai Amirul Mukminin?"

- - -

Membaca kisah tersebut di atas kemudian muncul sebuah pertanyaan, siapakah pemuda itu? mungkin kita tidak akan mengira bahwa ia adalah salah seorang anak khalifah sendiri. Tapi ternyata hal itulah yang terjadi, ia adalah Abdul Malik, putra Amirul Mukminin Umar bin Abdul Aziz sendiri. Semoga Allah merahmati keduanya.

- - -

Sementara itu di kisah yang lain, seorang lelaki datang menghadap Amirul Mukminin Umar bin Khattab ra. Ia melaporkan kepada khalifah tentang kedurhakaan anaknya. Khalifar Umar lantas memanggil anak yang dikatakan durhaka itu dan mengingatkannya tentang bahaya durhaka kepada orang tua.

Saat ditanya sebab kedurhakaannya, anak itu mengatakan, "Wahai Amirul Mukminin, tidakkah seorang anak mempunyai hak yang harus ditunaikan oleh orang tuanya?"
"Ya"
jawab khalifah. "Apakah itu?" tanya anak itu. Khalifah menjawab, "Ayah wajib memilihkan ibu yang baik buat anak-anaknya, memberi nama yang baik, dan mengajarkannya Al Qur'an."

lantas sang anak menjawab, "Wahai Amirul Mukminin, tidak satupun dari tiga perkara itu yang ditunaikan ayahku. Ibuku beragama Majusi, namaku Ja'lan, dan aku tidak pernah diajarkan Al Qur'an."

Umar bin Khattab lalu menoleh kepada ayah dari anak itu dan mengatakan, "Anda datang mengadukan kedurhakaan anakmu, ternyata Anda telah mendurhakainya sebelum ia mendurhakaimu. Anda telah berlaku tidak baik terhadapnya sebelum ia berlaku tidak baik kepada Anda."

- - -


Saudaraku, apakah kita adalah seorang ayah serupa Umar bin Abdul Aziz ataukah seperti
ayah dalam kisah kedua? Bukankah anak seekor singa adalah singa, pun dengan anak seekor keledai pastilah ia keledai juga sebagaimana induknya.

Mudah-mudahan saya dan kita semua dapat mentarbiyah keluarga dan anak-anak kita dengan baik sebagai batu bata peradaban madani kelak, dan terhindar dari pelalaian terhadap kewajiban mentarbiyah keluarga kita. amiin

Rabbi awzi'niy an asykura ni'matakal latiy an'amta 'alayya wa 'alaa waalidayya wa an a'mala shaalihan tardhaahu wa ashlih fii dzurriyyatiy, inniy tubtu ilaika wa inniy minal muslimiin

"Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai dan berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri." (QS. Al Ahqaaf: 15)


Kutipan kisah dari buku "Cinta di Rumah Hasan Al Banna", Muhammad Lili Nur Aulia, Pustaka Dakwatuna

selengkapnya...

Rabu, September 16, 2009

Saya anti terorisme, tapi ... kok aneh ya?

Pagi ini ketika melihat siaran berita di TV, ada berita mengenai pengepungan "rumah teroris" di Solo, Jawa Tengah. Berita yang hampir sama dengan "prestasi" polisi mengepung dan membunuh tersangka "teroris" yang kelak diketahui bernama Ibrahim di Temanggung beberapa saat lalu. Model pengepungannya pun sama. Pengepungan dilakukan sejak malam hingga pagi hari dengan brondongan peluru ke arah rumah. endingnya pun sama pula, sang tersangka "teroris" meninggal.

Saya anti terorisme, apapun bentuknya. baik dilakukan perorangan, kelompok, maupun negara tertentu. baik dilakukan atas nama agama maupun alasan konspirasi tertentu. Apapun alasannya saya membenci terorisme.

Namun, melihat dua pengepungan di Temanggung dan Solo ini saya jadi sangat khawatir. Coba bayangkan jika suatu malam kita sedang berkumpul bersama keluarga di rumah dan tiba-tiba datang sekumpulan densus 88. Tanpa tahu apa-apa tiba-tiba rumah kita dibrondong peluru tanpa henti, walau ternyata kita tidak pernah melakukan perlawanan ataupun membalas tembakan tersebut. Dan tembakan baru dihentikan ketika dipastikan seluruh penghuni rumah telah meninggal.

Alangkah mengerikannya hal tersebut. Hanya bermodal dugaan bahwa kita adalah teroris karena kita rajin sholat di masjid, karena kita mengajar pengajian di rumah, karena kita berpenampilan islami dengan jenggot dan istri berjilbab, polisi dapat dengan mudahnya memberondong rumah kita hingga kita tewas? lalu dimana asas praduga tak bersalah buat mereka?

Ini yang menjadi pertanyaan besar di kepala saya, "kenapa para tersangka tersebut tidak ditangkap hidup-hidup? bukankah mereka tidak melakukan perlawanan?" bukankah mudah sekali menangkap hidup-hidup 1 s.d 4 orang tak bersenjata dengan mengerahkan ratusan polisi.

Pertanyaan berikutnya, "apakah benar bom yang terdapat di rumah tersangka benar milik mereka, bukan sengaja diletakkan di sana setelah mereka semua tewas?" untuk pertanyaan ini bagaimana kita bisa tahu jawabannya karena semua tersangka telah tewas.

Bukankah dalam Al-Qur'an jelas dikatakan bahwa, "...barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya.." (QS. Al Maa'idah: 32), dan ini ada empat orang yang belum dapat dibuktikan apakah mereka teroris atau bukan yang dengan mudahnya dibrondong peluru hingga tewas. astaghfiruLLahal 'adzim ...

Sekali lagi, saya tegaskan saya anti terorisme, namun sangat menyedihkan jika ternyata
pemberantasan terorisme yang dilakukan polisi memberikan teror yang tidak kalah dahsyatnya bagi golongan-golongan tertentu yang notabenenya bukan teroris. Semoga kita semua dapat lebih bijak dalam melakukan sesuatu.

selengkapnya...

Senin, Januari 12, 2009

Salam tuk Sahabat

Hari ini ketika membuka email yahoo, ada satu pesan dari friendster dengan subject uSka aQim birthday is comming up. Birthday reminder dari friendster adalah hal biasa dalam inbox email saya, tapi yang menjadikannya berbeda adalah siapa yang menjadi Subject dalam birthday reminder itu.
Dalam email kali ini yang akan berulang tahun sebentar lagi adalah sahabat saya dari Tanjung Pinang. Saya mengenalnya saat dia masuk menjadi pegawai baru di kantor pertengahan tahun 2007 lalu.
Usia kami tidak jauh berbeda, hanya selisih beberapa bulan.
Seketika kami pun akrab karena minat kami tidak jauh berbeda: 'islam'. Terlebih ketika kami mutasi ke kota Palu dan untuk sementara selama sebulan menginap di mess kantor, persaudaraan kami makin terasa indah.
Hingga akhirnya hampir satu tahun yang lalu Ar-Rahman memanggil sahabatku, Uska Aqim Muvariz, dan saya tidak sempat melihat wajahnya yang terakhir karena saat itu saya sedang bertugas di sebuah kabupaten di prov sulawesi tengah.
Hari ini kembali teringat saat saya berkenalan dengan dia pertama kalinya

'Saya Aqim, Uska Aqim Muvariz'
'Namamu artinya apa Qim?'
'Kata orang tua ku Uska itu singkatan, artinya Umat Selamatkan Aqidahmu ...'

Kehilangan satu sahabat merupakan kesedihan mendalam, apalagi Kehilangan ribuan nyawa saudaraku di palestina

Allahummanshur ikhwaninal mujahidina fi filistin wa kulli makan
Ya Allah berikanlah pertolongan pada saudaraku para mujahid di Palestina dan dimanapun berada

selengkapnya...

Senin, Desember 15, 2008

Mesin Fotocopy

Kemarin ketika googling mesin fotocopy, muncul link ke salah satu artikel di situs www.andriewongso.com tentang fotocopy yang cukup menarik. Berikut artikelnya :

Pernahkah Anda membayangkan, harus menulis dan menggambar sesuatu yang sama untuk memperbanyak dokumen dengan tangan? Berterima kasih lah pada mesin fotokopi. Sebab, dengan mesin fotokopi saat ini kita dapat dengan mudah memperbanyak gambar dan tulisan berapa pun banyaknya. Tinggal pencet tombol, tunggu sejenak, semua pekerjaan penggandaan beres.

Ternyata, mesin fotokopi yang ada saat ini berasal dari kerepotan yang dialami seorang pria bernama Chester F. Carlson. Ia semula adalah pekerja di sebuah perusahaan analisis paten untuk pembuat produk elektronik. Tugasnya saat itu adalah menyalin semua dokumen dan gambar paten ke dalam beberapa dokumen. Tentu, ini adalah pekerjaan yang sangat melelahkan. Apalagi, saat itu semua dikerjakan dengan tangan. Karenanya, untuk membuat beberapa dokumen, perlu waktu yang tak sedikit, bahkan berjam-jam.

Karena kelelahan, Chester pun kemudian berpikir. Bagaimana ia bisa menggandakan dokumen dengan cepat dan praktis. Tidak seperti yang ia lakukan sebelumnya. Suatu kali, pemuda cerdas ini pun menemukan ide. Ia menggunakan konsep yang disebut photo-conductivity, sebuah proses perubahan elektron jika terkena cahaya. Intinya, dengan proses ini, gambar bisa digandakan dengan proses perubahan elektron tersebut.

Beberapa tahun ia mencoba menyempurnakan temuannya ini. Dan, setelah sekian lama, temuannya yang diberi nama electric photography ini dipatenkan pada 1942. Meski sangat berguna, alat tersebut rupanya tak bisa langsung jadi populer. Chester yang berhasil membuat alat itu harus berjualan konsep bertahun-tahun lamanya agar mesin fotokopi itu bisa dijual di pasaran. Berbagai perusahaan besar seperti IBM, GE, dan RCA menolak temuan itu. Setelah hampir putus asa, ia kemudian menawarkan ide itu pada perusahaan yang bernama Haloid Company. Ternyata, konsep itu diterima. Buah perjuangan 20 tahunan menjual ide itu akhirnya menjadi kisah membahagiakan. Haloid Company kemudian mengenalkan produk mesin fotokopi pertama itu dengan nama Xerox.

Kini, Xerox telah sukses di pasaran. Haloid Company pun berubah namanya jadi Xerox Company. Chester juga telah membuktikan, buah karyanya ternyata kini bermanfaat di seluruh dunia.

selengkapnya...

Kamis, November 27, 2008

Perpisahan ...

"Mas, mulai besok saya sudah nggak jualan. Besok saya pulang ke Madura dan nggak kembali lagi ke sini."

Mas Saili, tukang sate ayam langganan saya memberitahukan rencana kepergiannya besok.

Mas Saili bersama temannya Yukim biasa mangkal di warung sate sederhananya yang tidak jauh dari kantor saya. Jika lagi tidak masak, saya biasa beli sate di tempat itu sepulang dari kantor. Mas Saili dan Yukim berasal dari Madura, mereka alumni salah satu pesantren di pulau itu yang kemudian setelah lulus dikontrak untuk menjual sate di Palu sejak hampir setahun yang lalu. Usia mereka sekarang masih 19 tahun.

"Nggak balik lagi ke sini?! Emang kenapa? Mau nikah?" tanya saya agak kaget.

"Nggak mas. Saya mau nyari kerja lagi di Surabaya, kalo Yukim mau pindah ke Palembang, jualan ama saudaranya di sana."

"Ya udah ati2 ya. Mohon maaf kalo ada salah. Jangan lupa sholatnya yang rajin ya."

"iya mas sama2."

Kami pun berjabat tangan, jabat tangan terakhir kami (waLLahu a'lam), jabat tangan perpisahan.

)I(

Malam ini di akhir acara kajian dengan ust Cahyadi Takariawan yang sedang datang ke Palu, ada pengumuman dari moderator kajian bahwa salah seorang saudara kami, Danang, beberapa hari ini akan pindah ke Manado. Beliau pindah dikarenakan mutasi besar2an di kantornya dalam rangka modernisasi birokrasi.

Saya tidak terlalu terkejut, karena beberapa hari sebelumnya berita kepindahan beliau sudah lebih dulu saya dengar. Mudah-mudah ini pilihan terbaik dari Ar-Rahman untuk beliau.

)I(

Setidaknya ada dua perpisahan yang mewarnai kisah saya hari ini. Perpisahan memang selalu menjadi bab yang tidak terpisahkan dari kisah hidup kita, seolah2 tidak mau kalah dengan perkenalan2 dan bertambahnya teman yang juga selalu mewarnai langkah kaki kita.

Semoga setiap perpisahan yang terjadi tidak meninggalkan jejak kecuali kebaikan, senyum haru, cinta, persaudaraan, dan harapan akan pertemuan kembali, entah di dunia atau di akhirat kelak.

Rabbanaghfirlanaa wali ikhwaaninal ladziina sabaquunaa bil iimaani walaa taj'al fii quluubinaa gillal lilladziina aamanuu, Rabbanaa innaka Rauufur Rahiim*

Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.

)I(

"Satu lagi saudara kita yang akan meninggalkan kita beberapa minggu lagi, akh Dwi, insya Alloh beberapa minggu lagi beliau akan melanjutkan D4 di Jakarta. Istrinya malahan sudah duluan di Jakarta."

lanjut moderator memberitahukan rencana saya yang tidak lama lagi juga akan berpisah dengan semua sahabat di Palu.

____________________
* QS Al Hasyr : 10

selengkapnya...

Rabu, November 26, 2008

Hikmah di Pantai Losari

Sore itu di pantai Losari, dari kejauhan matahari perlahan mulai tenggelam diiringi suara ombak yang menyapa beton tanggul pembatas pantai terdengar merdu bersama tawa riuh anak2 yang sedang berlarian. Saya dan seorang sahabat duduk di pinggir pantai sambil berdiskusi tentang kehidupan. Irman, sahabat saya itu, menceritakan perihal balasan bagi orang yang berbuat baik di dunia maupun di akhirat.

"jo, antum percaya nggak setiap kita berbuat kebaikan pasti suatu hari Alloh akan membalas kebaikan itu saat kita membutuhkan, kayak karma gitu."

Saya terus mendengarkan cerita sahabat saya yang pertama kali saya kenal ketika kuliah dulu. Sejak awal perkenalan itu tidak habis2 nya pelajaran yang selalu saya dapat dari dia.

"di acara pelatihan kantor kemarin dibahas tentang ini. Ada kisah nyata tentang seorang anak miskin penjual asongan dan seorang perempuan baik hati." lanjutnya

Suatu hari, seorang anak laki-laki miskin penjual asongan dari pintu ke pintu, menemukan bahwa di kantongnya hanya tersisa beberapa sen uangnya, dan dia sangat lapar. Kemudian ia memutuskan untuk meminta makanan dari rumah berikutnya. Akan tetapi anak itu kehilangan keberanian saat seorang wanita muda membuka pintu rumah. Anak itu tidak jadi meminta makanan, ia hanya berani meminta segelas air.

Wanita muda tersebut melihat, dan berpikir bahwa anak lelaki itu pastilah lapar, oleh karena itu ia membawakan segelas besar susu. Anak lelaki itu meminumnya dengan lambat, dan kemudian bertanya, 'berapa saya harus membayar untuk segelas besar susu ini ?'

Wanita itu menjawab: 'Kamu tidak perlu membayar apapun. Ibu kami mengajarkan untuk tidak menerima bayaran untuk kebaikan'

Anak lelaki itu kemudian menghabiskan susunya dan berkata :' Dari dalam hatiku aku berterima kasih pada anda.'

Belasan tahun kemudian, wanita muda tersebut mengalami sakit yang sangat kritis. Para dokter di kota itu sudah tidak sanggup menanganinya. Mereka akhirnya mengirimnya ke kota besar, dimana terdapat dokter spesialis yang mampu menangani penyakit langka tersebut.

Dr. Howard Kelly dipanggil untuk melakukan pemeriksaan. Pada saat ia mendengar nama kota asal si wanita tersebut, terbersit seberkas pancaran aneh pada mata dokter Kelly. Segera ia bangkit dan bergegas turun melalui hall rumah sakit, menuju kamar si wanita tersebut. Dengan berpakaian jubah kedokteran ia menemui si wanita itu.

Ia langsung mengenali wanita itu pada sekali pandang. Ia kemudian kembali ke ruang konsultasi dan memutuskan untuk melakukan upaya terbaik untuk menyelamatkan nyawa wanita itu. Mulai hari itu, Ia selalu memberikan perhatian khusus pada kasus wanita itu.

Setelah melalui perjuangan yang panjang, akhirnya diperoleh kemenangan, wanita itu sembuh !! Dr. Kelly meminta bagian keuangan rumah sakit untuk mengirimkan seluruh tagihan biaya pengobatan kepadanya untuk persetujuan.

Dr. Kelly melihatnya, dan menuliskan sesuatu pada pojok atas lembar tagihan, dan kemudian mengirimkannya ke kamar pasien. Wanita itu takut untuk membuka tagihan tersebut, ia sangat yakin bahwa ia tak akan mampu membayar tagihan tersebut walaupun harus dicicil seumur hidupnya.

Akhirnya Ia memberanikan diri untuk membaca tagihan tersebut, dan ada sesuatu yang menarik perhatiannya pada pojok atas lembar tagihan tersebut. Ia membaca tulisan yang berbunyi... 'Telah dibayar lunas dengan segelas besar susu..' tertanda, DR Howard Kelly

----


Azan maghrib pun terdengar dari masjid sekitar kami duduk. Kami pun segera melengkapi kesyukuran atas hikmah hari ini kepada Ar Rahman. `Hal jazaa ul ihsaani illal ihsaanu, tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula)*

amsainaa ;alaa fithratil Islaami wa kalimatil ikhlaashi wa 'alaa diini nabiyyina Muhammadin shallaLLahu 'alaihi wa sallama wa 'alaa millati abiina Ibraahiima haniifa wa ma kaana minal musyrikiin.


Kami bersore hari di atas fitrah Islam, di atas kalimat keikhlasan, di atas agama nabi kami Muhammad saw, dan di atas millah bapak kami Ibrahim yang lurus. Dan ia bukan termasuk orang-orang yang musyrik





__________
* QS Ar-Rahmaan : 60


selengkapnya...

Selasa, November 25, 2008

Download eBook Hadits Arba'in Imam Nawawi

Buat teman2 yang ingin membaca dan mempelajari Kitab Hadits Arba'in karya Imam Nawawi, silahkan klik link di bawah ini :

download eBook Hadits Arba'in

selengkapnya...

Allah Gembira Dengan Taubat Hamba-Nya

Dari Abu Hamzah yaitu Anas bin Malik al-Anshari r.a., pelayan Rasulullah saw, katanya: Rasulullah s.a.w. bersabda:

"Niscayalah Allah itu lebih gembira dengan taubat hambaNya daripada gembiranya seseorang dari engkau semua yang jatuh di atas untanya dan oleh Allah ia disesatkan di suatu tanah yang luas." (Muttafaq 'alaih)

Dalam riwayat Muslim disebutkan demikian:

"Niscayalah Allah itu lebih gembira dengan taubat hamba-Nya ketika ia bertaubat kepada-Nya daripada gembiranya seseorang dari engkau semua yang berada di atas untanya dan berada di suatu tanah yang luas, kemudian pergilah untanya itu dari dirinya, sedangkan di untanya itu ada makanan dan minumannya. Orang tadi lalu berputus-asa. Kemudian ia mendatangi sebuah pohon dan tidur berbaring di bawah naungannya, sedang hatinya sudah berputus asa sama sekali dari untanya tersebut. Tiba-tiba di kala ia berkeadaan sebagaimana di atas itu, untanya itu tampak berdiri di sisinya, lalu ia mengambil ikatnya. Oleh sebab sangat gembiranya maka ia berkata: 'Ya Allah, Engkau adalah hambaku dan aku adalah TuhanMu'. Ia menjadi salah ucapannya kerana amat gembiranya."

Keterangan:
Jadi kegembiraan Allah Ta'ala di kala mengetahui ada hambaNya yang bertaubat itu adalah lebih sangat dari kegembiraan orang yang tersebut dalam ceritera di atas itu.

(Hadits no. 15 kitab Riyadus Shalihin, Imam Nawawi)

selengkapnya...

Selasa, November 18, 2008

Berkata Yang Baik Atau Diam

Mungkin teman2 pernah membaca/mendengar sebuah kisah hikmah tentang seorang anak pemarah. Dikarenakan sifat pemarah anaknya itu kemudian sang ayah mengajarkan sebuah hikmah. Sang anak diberikan sekantong paku yang harus ditancapkan ke pagar rumah mereka jika sang anak marah.

Beberapa hari kemudian pagar rumah mereka pun penuh dengan paku yang tertancap dan sang anak pun sadar. Dia kemudian menanyakan kepada ayahnya apa yang harus dilakukan. Sang ayah meminta anaknya untuk mencabuti paku2 itu setiap kali sang anak menyesal atas kemarahannya. Dicabutlah paku2 itu oleh sang anak hingga tidak ada lagi paku yang tertancap di pagar.

Kemudian sang ayah memberikan hikmah dari pelajaran yang diberikannya,"Wahai anakku, kamu telah berusaha keras dan belajar untuk tidak menancapkan paku lagi, bahkan kamu sudah mencabut semua paku yang pernah kamu tancapkan.Hanya saja lihatlah bekas lubang akibat paku yang kamu tancapkan, lubang-lubang tidak akan tertutup kembali seperti sedia kala"

Makna kisah ini adalah bahwa ketika kita marah, reaksi emosional kita secara tidak kita sadari akan membuat sebuah luka yang halus yang tak dapat disembuhkan di dalam hati orang lain. Tak peduli seberapa banyak kita meminta maaf, luka itu pasti akan meninggalkan bekas. Serangan lisan akan sama menyakiti bahkan lebih manyakitkan daripada serangan fisik.

Benar sekali nasihat RasuluLLah saw, "Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia berkata baik atau diam ..."(HR Bukhari dan Muslim)

AstaghfiruLLah, entah sudah berapa banyak orang yang tersakiti lisanku.

Mbah, Bapak, Ibu, Mas, Istriku, Zahid, Sahabat, Teman2, Semuanya ... Maafkanlah lisanku ini jika telah banyak menyisakan luka yang dalam.


Palu, pagi hari tgl 19-11-08
setelah sedih dan kaget membaca komentar kasar tentang Ust Anis Matta

selengkapnya...

Senin, November 17, 2008

Sejarah Menurut Ust Anis Matta

Sejarah jangan dibaca sebagai dendam pada masa lalu, usaha menuntaskan pembalasan dendam, dan usaha membalaskan dendam. Bangsa ini tak akan pernah menjadi bangsa besar kalau anak bangsa membaca sejarah bangsa ini sebagai sejarah dendam. Sebab, membaca sejarah dengan dendam, mendorong lahirnya dendam baru yang terus berulang.

”Akan lahir sebuah proses regenerasi dendam dalam episode yang tidak berkesudahan dan menghabiskan energi bangsa ini,” ujar Sekretaris Jenderal Partai Keadilan Sejahtera (PKS) M Anis Matta dalam diskusi tentang tokoh dan dendam sejarah di Jakarta, Minggu (16/11).

”Sejarah pahlawan kita bukanlah sejarah malaikat yang bebas cacat dan bukan pula cerita tentang manusia sempurna. Pahlawan bangsa kita hanyalah manusia biasa yang berusaha melakukan pekerjaan luar biasa bagi bangsa dan negara,” ujarnya.

Sejarah pahlawan, menurut Anis, merupakan pergulatan kemanusiaan yang penuh haru biru dan yang harus dibaca dengan kacamata kemanusiaan yang jujur dan adil, bebas dari dendam. Hanya dengan begitu, sejarah bangsa ini bisa menjadi cermin pembelajaran bagi generasi baru untuk melangkah ke depan.

”Pembelajaran antargenerasilah yang membuat sejarah kita sebagai bangsa tersambung sebagai sebuah mata rantai antargenerasi yang saling mengisi. Sebab, peradaban besar adalah karya bersama seluruh generasi dan bukan kerja satu orang dan yang bisa diselesaikan dalam semalam,” ujarnya lagi.

(kompas 17 Nopember 2008 halaman 2)

selengkapnya...

Berbuat Baik Dengan Pamrih

suatu ketika saat saya sekolah dulu seorang guru pernah membuat pernyataan yang kontroversial di depan kami.

"kita itu setiap melakukan sesuatu harus mengharapkan pamrih. sebenarnya yang diajarkan di pelajaran PMP (pendidikan moral pancasila) itu salah, masa kalo kita berbuat baik kita harus berbuat baik tanpa pamrih, rugi lah"

saya dan teman2 satu kelas pun bingung mendengar pernyataan guru kami itu, karena selama ini guru2 yang lain selalu menekankan agar setiap kali kita berbuat baik pada orang lain jangan pernah mengharap pamrih atau balas jasa.

"menurut saya, setiap kali kita berbuat baik kepada orang lain kita harus mengharapkan pamrih, agar kita bersemangat untuk berbuat kebaikan, dan itu wajar. tapi pamrihnya bukan dari manusia, pamrih yang kita harapkan adalah Ridho Allah swt." lanjut guru kami.

selengkapnya...

Minggu, November 16, 2008

Usul Buat Para Panitia

"saya kalo denger kajian nggak pernah bisa fokus akh, harus sambil jagain anak" curhat seorang sahabat kepada saya sambil ngendong anaknya yang hampir satu tahun sekaligus mengawasi anaknya yang lain. memang kadang sahabat saya itu bergantian dengan istrinya untuk menjaga anak2nya setiap ada acara kajian.

"suara saya kalah ya dengan suara para penerus kita" canda seorang ustadz di depan micnya saat menjadi pembicara dalam sebuah kajian. volume suara sang ustadz (sudah menggunakan sound system) kalah keras dibandingkan suara anak2 peserta kajian yang sedang riang bercanda di ruangan tempat acara berlangsung.

Tiga tahun lalu, komen seperti ini hampir tidak pernah saya dengar, maklum saat itu acara kajian yang sering saya datangi kebanyakan hanya dihadiri mahasiswa dan pelajar. Jadi tidak pernah saya dengar teman yang curhat nggak fokus dengar kajian karena ngawasin anak atau ustadz yang suaranya dikalahkan suara para mujahid kecil.

Sekarang setelah jadi mantan mahasiswa dan jadi abii baru (baru satu tahun jadi abinya zahid) dimana acara kajian lebih banyak gabung dengan para abahat (?) dan ummahat, komen2 di atas sering mampir di telinga.

Jadi ada ide buat para panitia,

biar kasus di paragraf 1 dan 2 dapat diminimalisir
plus
di satu sisi kita tidak membumihanguskan potensi kreativitas dan kecerdasan anak2 kita,

bagaimana jika di setiap acara yang melibatkan banyak abahat (?) dan ummahat dibentuk seksi baru dalam kepanitian : "seksi pengasuh anak"

bukankah banyak akhwat yang menjadi guru tk atau play group? sekaligus buat sarana latihan para calon ummahat ^_^

selengkapnya...

Kita Sedang Membangun Sebuah Peradaban

Ada tiga orang pekerja pengangkut batu pada proyek pembangunan piramid yang ditanya dengan pertanyaan yang sama, "apa yang sedang kamu kerjakan?"
Masing2 mereka memberikan jawaban yang berbeda. Pekerja pertama menjawab, "saya sedang membawa batu." sedangkan pekerja kedua menjawab, "saya sedang membangun piramid." dan pekerja ketiga menjawab, "saya sedang membangun peradaban."

Sebuah cerita motivasi yang kembali saya akses dari otak dalam saya setelah mendengar seminar Ustadz Cahyadi Takariawan pagi tadi. Kisah yang pernah diceritakan salah seorang dosen di kampus dulu, yang secara lembut mempengaruhi pemikiran saya sebagai seorang "pekerja".

Sebuah cerita yang dulu sering saya ceritakan kembali di depan adik2 peserta mentoring rohis SMK dan kampus untuk menularkan pemahaman saya bahwa rutinitas mentoring pekanan yang kami lakukan bukan hanya tempat ngobrol, curhat, atau diskusi, tapi tempat sebuah peradaban dibangun.

Dan hari ini, ketika membaca kembali salah satu buku yang paling saya cintai, "Bagaimana Menyentuh Hati" karya Abbas As-Siisi, di halaman awalnya terdapat sebuah nasihat indah Ustadz Hasan Al-Banna tentang sebuah asa,

"Saudaraku, janganlah engkau putus asa, karena putus asa bukanlah akhlak seorang muslim. Ketahuilah bahwa kenyataan hari ini adalah mimpi hari kemarin, dan impian hari ini adalah kenyataan di hari esok. Waktu masih panjang dan hasrat akan terwujudnya kedamaian masih tertanam dalam jiwa masyarakat kita, meski fenomena-fenomena kerusakan dan kemaksiatan menghantui mereka. Yang lemah tidak akan lemah sepanjang hidup-nya dan yang kuat tidak akan selamanya kuat."

selengkapnya...

SMS Yang Aneh

"Ta'limat untuk ** dan ****** **** **** & ***: Mhn dapat hadir pada Taujih ********** ****** oleh ***** *** ***** ******** Ust Cahyadi T pd hr Sabtu tgl 15 Nov jam 08.30 di Dikjar Jl Setia Budi. Sebarkan!" sebuah sms masuk ke handphone LG KG300 saya.

Sekilas tidak ada yang aneh dengan sms ini, sms ta'limat, sms yang biasa saya terima dari teman2 di organisasi jika ada suatu acara yang sangat urgen untuk dihadiri.

Namun jika ternyata sms itu saya terima pada hari sabtu tanggal 15 Nopember 2008 jam 08.48 wita, tentu cukup aneh. Acaranya kan jam 08.30 wita?

Karena ini sms ta'limat, tidak ada waktu lagi untuk kaget. cucian harus cepat diselesaikan. nasi yang lagi dimasak di rice cooker tidak perlu ditunggu matang (nggak jadi sarapan). bahkan rencana mandi pagi harus diganti hanya dengan wudhu, cuci muka dan sikat gigi. hasilnya? jam 09.00 wita saya sudah siap berangkat.

AlhamduliLLah sejak hari selasa kemarin teman kantor yang sedang tugas ke luar daerah menitipkan motor honda supra-x nya ke saya, jadi perjalanan ke tempat acara tidak membutuhkan banyak waktu. Insya Alloh 10 menit sampai. Maklum, Palu belum seramai Jakarta, di sini bebas macet.

Di atas motor saya mulai bertanya-tanya, kok acara sepenting ini baru diinformasikan 18 menit setelah jadwal acara? bukankah acaranya sudah direncanakan sebelumnya, pembicaranya saja datang dari jawa? Kalo saya naik taksi (sebutan angkot di Palu), saya sampai jam berapa ya? Kalo saat ini saya lagi ada agenda kegiatan? kalo ... AlhamduliLLah sampe juga di Dikjar ^_^

selengkapnya...

Kamis, November 13, 2008

Belajar dari Bapak Ojek Sepeda

Meli tidak menyangka akan begini jadinya. Ia terus berlari dan berlari, menghindari kerumunan dan amukan massa di sekitar Jakarta Barat. Dari kejauhan terlihat jilatan api dari beberapa gedung dan sisa asap pembakaran mobil.

Massa yang beringas –yang entah datang dari mana– bersorak-sorai. Kemudian terdengar suara-suara sumbang penuh hasutan: “Cari Cina! Cari Cina!”
Beberapa mata mulai memandangnya. Meli bergidik. Beberapa mata mulai merasa menemukan sasaran.

Meli menatap ke depan. Lengang, tak ada satu kendaraan pun yang bisa membawanya pergi dari tempat itu. Cemasnya menjadi-jadi. Apa yang harus dilakukannya sekarang? Berlari sekuat-kuatnya? Masuk ke rumah penduduk?
Mereka telah menutup pintu rapat-rapat tanpa berani membukanya, setidaknya saat ini. Lalu? Matanya mulai nanar.

Tiba-tiba di antara bayangan kepulan asap, tampak seorang lelaki tua lusuh dengan sebuah sepeda kusam tua, menghampirinya.
“Ibu Cina, ya! Ibu mau kemana? Cepat naik ke sepeda saya, Bu! Cepat!!”
“Ojek sepeda ya…, Pak?”
Bapak dengan baju tambalan di sana sini itu mengangguk pelan.
Tanpa berpikir panjang, Meli segera naik ke atas sepeda tersebut.

Si lelaki tua mengayuh sepedanya kuat-kuat disertai peluh bercucuran yang membasahi bagian punggung bajunya, meninggalkan massa yang berpesta dalam amukan dan beberapa pasang mata liar yang urung mengejar mereka.

Sampai di belakang Glodok Plaza, Meli melihat banyak orang mengambil barang dari dalam toko-toko di sekitar sana. Dengan wajah puas orang-orang itu mengangkuti televisi, radio, komputer, kulkas sampai mesin cuci dan lain sebagainya. Meli tak mengerti. Mungkinkah barang-barang itu diberikan oleh pemiliknya agar toko tersebut tak dibakar? Atau massa yang menjarahnya? Beberapa tentara tampak berjaga-jaga, namun tak melarang siapa pun yang ingin mengambil barang.

Di sudut yang sepi, Meli menyuruh bapak tua itu berhenti.
“Ada apa, Bu?”
“Pak, mendingan Bapak ikut ambil barang-barang itu dulu. Biar sepedanya saya yang jagain. Itu orang-orang pada ngambil. Ambil dulu, Pak!” ujar Meli.
Hatinya tergetar melihat kemiskinan dan perjuangan lelaki tua ini untuk menghidupi keluarganya. Ya, apa salahnya ia menunggu sebentar dan menjaga sepeda ini sementara bapak itu mengangkuti barang yang bisa dia bawa pulang.
Di luar dugaan, bapak tua itu menggeleng dan tersenyum getir.
Tidak, Bu. Barang itu bukan milik saya. Bukan barang halal. Saya muslim, Bu.

Meli tercengang beberapa saat. Benar-benar terenyuh. Orang tak mampu seperti ini, ternyata punya prinsip hidup yang sangat mulia.

Saat sampai di tujuan, bapak itu hanya meminta ongkos tiga ribu rupiah, jumlah yang tak berbeda dengan bila tak ada kerusuhan. Meli memberinya empat ribu, dan bapak tua itu meninggalkannya dengan riang.
“Terimakasih, Bu.”

Meli menatap lelaki tua itu hingga menjadi titik di kejauhan. Ia telah mendapat satu pelajaran yang luar biasa. Bukan dari siapa-siapa. Hanya dari seorang miskin, seorang muslim, seorang yang berbeda keyakinan dengan dirinya. Dan dengan bangga, Meli menceritakannya pada saya.

Dikutip dari salah satu buku lama punya istri saya,
"Pelangi Nurani, Kumpulan Kisah-kisah Kehidupan untuk Memperkaya Jiwa",
tulisan Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia, dkk,
penerbit Asy Syaamil

selengkapnya...

Melakoni hidup kadang seperti kegiatan memancing ikan

"Melakoni hidup kadang seperti kegiatan memancing ikan. Semakin bagus umpan yang diberikan, kian cepat dan besar ikan yang didapat. Sayangnya, tak semua pemancing sadar kalau mengail ikan butuh keyakinan dan kesabaran."

(dakwatuna.com)

selengkapnya...

Rabu, November 12, 2008

Belajar dari pornografi

Beberapa hari lalu ketika semua media sedang menjual isu yang bernama "pornografi", saya mendapat pelajaran yang luar biasa.

saat itu ampir di semua media kita lihat selalu diberitakan tentang kontra-pro pengesahan RUU Pornografi, (saya sengaja tulis kata kontra sebelum pro karena kayaknya rata2 media, pemberitaannya banyak ke kontra daripada pro) demo2 kontra pengesahan lebih diekspose daripada demo pro pengesahan. suara2 masyarakat yang menyatakan kontra lebih diekspose ketimbang suara2 yang pro.

Melihat kondisi seperti itu teman2 mulai panik, sms maupun email mulai berkeliweran yang berisi seruan untuk ngirim sms, email sampai faks ke wakil2 rakyat yang isinya menunjukkan bahwa kita pro pengesahan. bahkan ada sebuah ormas yang sangat antipati terhadap dakwah di parlemen ternyata ikut2an demo ke DPR agar RUU nya segera disahkan

Pelajaran yang bisa kita ambil dari perjuangan kemarin, ternyata mau nggak mau kita harus akui strategisnya peran DPR/DPRD dalam menentukan mau dibawa kemana arah hukum dan undang2 positif kita.

Sebanyak2nya berita miring, penolakan2, demo2, opini2, jika kebanyakan wakil2 rakyat yang ada di DPR menyetujui sebuah RUU, maka nggak terlalu ada efeknya. Begitupun sebanyak2nya sms/email/faks/opini/ceramah/demo kita, jika wakil2 rakyat yang ada di DPR kebanyakan tidak setuju, paling kita cuma bisa mengelus dada dan cuma bisa menolak kemungkaran di depan mata kita hanya dengan hati.

Kasus hebohnya pornografi kemarin seharusnya membuka mata kita, bahwa kita tidak bisa tidak peduli terhadap wakil suara kita di DPR/DPRD. Semakin banyak orang2 baik disana, semakin mudahlah kita menyelaraskan hukum dan undang2 positif kita dengan ajaran Islam.

Bukankah penegakkan ajaran Islam dalam tataran hukum publik juga merupakan kewajiban? (lihat artikel saya sebelumnya, qishash=puasa) dan menurut Syaikh Al-'Utsaimin dalam kitabnya Prinsip Ilmu Ushul Fiqih: "Jika suatu perbuatan yang diperintahkan tidak bisa dikerjakan kecuali dengan sesuatu maka sesuatu tersebut adalah diperintahkan, jika yang diperintahkan adalah wajib maka sesuatu itu hukumnya juga wajib."

WaLLahu a'lam

selengkapnya...

Senin, November 10, 2008

Umur Ummul Mukminin Aisyah ra. Ketika Menikah Bukan 7 Tahun ..!

Pagi ini ketika membaca salah satu artikel di blognya iqro club kebayoran lama ada sebuah fakta baru yang saya dapatkan dan merupakan jawaban atas beberapa polemik yang sering dihembuskan musuh Alloh terhadap umur Ummul Mukminin Aisyah ra ketika dinikahi Rasulullah saw.

Ternyata beberapa riwayat yang menyatakan umur Aisyah ra saat menikah adalah 7 tahun dinilai lemah dan kontradiktif dengan beberapa riwayat lainnya. Salah satu kontradiksi yang disebutkan dalam artikel tersebut antara lain,

Menurut beberapa riwayat, Aisyah dilahirkan pada tahun ke delapan sebelum hijriyah. Tetapi menurut sumber lain dalam Bukhari, Aisyah tercatat mengatakan hal ini:
“Saya seorang gadis muda (jariyah dalam bahasa arab) ketika Surah Al-Qamar diturunkan.
(Sahih Bukhari, kitabu’l-tafsir, Bab Qaulihi Bal al-sa`atu Maw`iduhum wa’l-sa`atu adha’ wa amarr).
Surat 54 dari Quran diturunkan pada tahun ke delapan sebelum hijriyah (The Bounteous Koran, M.M. Khatib, 1985), menunjukkan bahwa surat tsb diturunkan pada tahun 614 M. jika Aisyah memulai berumahtangga dengan Rasulullah pada usia 9 di tahun 623 M or 624 M, Aisyah masih bayi yang baru lahir (sibyah in Arabic) pada saat Surah Al-Qamar diturunkan.
Menurut riwayat diatas, secara aktual tampak bahwa Aisyah adalah gadis muda, bukan bayi yang baru lahir ketika pewahyuan Al-Qamar.
Jariyah berarti gadis muda yang masih suka bermain (Lane’s Arabic English Lexicon). Jadi, Aisyah, telah menjadi jariyah bukan sibyah (bayi), jadi telah berusia 6-13 tahun pada saat turunnya surah Al-Qamar, dan oleh karean itu sudah pasti berusia 14-21 tahun ketika dinikah Nabi.


Untuk lebih jelasnya sahabat bisa langsung lihat artikelnya di sini
atau kalo mau lihat versi aslinya yang berbahasa inggris bisa klik di sini

selengkapnya...

Alhamdulillah, Ponakan Pertama Saya Sudah Lahir ...!

Semalam sekitar jam 21.00 wib, Alhamdulillah kakak ipar saya satu2nya melahirkan anak pertamanya di Jakarta. Bayinya perempuan dengan berat 3 kg dan panjang 48 cm.
Sayangnya saya belum bisa nengokin ponakan pertama saya itu, cukup doa singkat ini aja ya ^_^



selengkapnya...

Penambah Ilmuku