Minggu, November 16, 2008

SMS Yang Aneh

"Ta'limat untuk ** dan ****** **** **** & ***: Mhn dapat hadir pada Taujih ********** ****** oleh ***** *** ***** ******** Ust Cahyadi T pd hr Sabtu tgl 15 Nov jam 08.30 di Dikjar Jl Setia Budi. Sebarkan!" sebuah sms masuk ke handphone LG KG300 saya.

Sekilas tidak ada yang aneh dengan sms ini, sms ta'limat, sms yang biasa saya terima dari teman2 di organisasi jika ada suatu acara yang sangat urgen untuk dihadiri.

Namun jika ternyata sms itu saya terima pada hari sabtu tanggal 15 Nopember 2008 jam 08.48 wita, tentu cukup aneh. Acaranya kan jam 08.30 wita?

Karena ini sms ta'limat, tidak ada waktu lagi untuk kaget. cucian harus cepat diselesaikan. nasi yang lagi dimasak di rice cooker tidak perlu ditunggu matang (nggak jadi sarapan). bahkan rencana mandi pagi harus diganti hanya dengan wudhu, cuci muka dan sikat gigi. hasilnya? jam 09.00 wita saya sudah siap berangkat.

AlhamduliLLah sejak hari selasa kemarin teman kantor yang sedang tugas ke luar daerah menitipkan motor honda supra-x nya ke saya, jadi perjalanan ke tempat acara tidak membutuhkan banyak waktu. Insya Alloh 10 menit sampai. Maklum, Palu belum seramai Jakarta, di sini bebas macet.

Di atas motor saya mulai bertanya-tanya, kok acara sepenting ini baru diinformasikan 18 menit setelah jadwal acara? bukankah acaranya sudah direncanakan sebelumnya, pembicaranya saja datang dari jawa? Kalo saya naik taksi (sebutan angkot di Palu), saya sampai jam berapa ya? Kalo saat ini saya lagi ada agenda kegiatan? kalo ... AlhamduliLLah sampe juga di Dikjar ^_^

selengkapnya...

Kamis, November 13, 2008

Belajar dari Bapak Ojek Sepeda

Meli tidak menyangka akan begini jadinya. Ia terus berlari dan berlari, menghindari kerumunan dan amukan massa di sekitar Jakarta Barat. Dari kejauhan terlihat jilatan api dari beberapa gedung dan sisa asap pembakaran mobil.

Massa yang beringas –yang entah datang dari mana– bersorak-sorai. Kemudian terdengar suara-suara sumbang penuh hasutan: “Cari Cina! Cari Cina!”
Beberapa mata mulai memandangnya. Meli bergidik. Beberapa mata mulai merasa menemukan sasaran.

Meli menatap ke depan. Lengang, tak ada satu kendaraan pun yang bisa membawanya pergi dari tempat itu. Cemasnya menjadi-jadi. Apa yang harus dilakukannya sekarang? Berlari sekuat-kuatnya? Masuk ke rumah penduduk?
Mereka telah menutup pintu rapat-rapat tanpa berani membukanya, setidaknya saat ini. Lalu? Matanya mulai nanar.

Tiba-tiba di antara bayangan kepulan asap, tampak seorang lelaki tua lusuh dengan sebuah sepeda kusam tua, menghampirinya.
“Ibu Cina, ya! Ibu mau kemana? Cepat naik ke sepeda saya, Bu! Cepat!!”
“Ojek sepeda ya…, Pak?”
Bapak dengan baju tambalan di sana sini itu mengangguk pelan.
Tanpa berpikir panjang, Meli segera naik ke atas sepeda tersebut.

Si lelaki tua mengayuh sepedanya kuat-kuat disertai peluh bercucuran yang membasahi bagian punggung bajunya, meninggalkan massa yang berpesta dalam amukan dan beberapa pasang mata liar yang urung mengejar mereka.

Sampai di belakang Glodok Plaza, Meli melihat banyak orang mengambil barang dari dalam toko-toko di sekitar sana. Dengan wajah puas orang-orang itu mengangkuti televisi, radio, komputer, kulkas sampai mesin cuci dan lain sebagainya. Meli tak mengerti. Mungkinkah barang-barang itu diberikan oleh pemiliknya agar toko tersebut tak dibakar? Atau massa yang menjarahnya? Beberapa tentara tampak berjaga-jaga, namun tak melarang siapa pun yang ingin mengambil barang.

Di sudut yang sepi, Meli menyuruh bapak tua itu berhenti.
“Ada apa, Bu?”
“Pak, mendingan Bapak ikut ambil barang-barang itu dulu. Biar sepedanya saya yang jagain. Itu orang-orang pada ngambil. Ambil dulu, Pak!” ujar Meli.
Hatinya tergetar melihat kemiskinan dan perjuangan lelaki tua ini untuk menghidupi keluarganya. Ya, apa salahnya ia menunggu sebentar dan menjaga sepeda ini sementara bapak itu mengangkuti barang yang bisa dia bawa pulang.
Di luar dugaan, bapak tua itu menggeleng dan tersenyum getir.
Tidak, Bu. Barang itu bukan milik saya. Bukan barang halal. Saya muslim, Bu.

Meli tercengang beberapa saat. Benar-benar terenyuh. Orang tak mampu seperti ini, ternyata punya prinsip hidup yang sangat mulia.

Saat sampai di tujuan, bapak itu hanya meminta ongkos tiga ribu rupiah, jumlah yang tak berbeda dengan bila tak ada kerusuhan. Meli memberinya empat ribu, dan bapak tua itu meninggalkannya dengan riang.
“Terimakasih, Bu.”

Meli menatap lelaki tua itu hingga menjadi titik di kejauhan. Ia telah mendapat satu pelajaran yang luar biasa. Bukan dari siapa-siapa. Hanya dari seorang miskin, seorang muslim, seorang yang berbeda keyakinan dengan dirinya. Dan dengan bangga, Meli menceritakannya pada saya.

Dikutip dari salah satu buku lama punya istri saya,
"Pelangi Nurani, Kumpulan Kisah-kisah Kehidupan untuk Memperkaya Jiwa",
tulisan Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia, dkk,
penerbit Asy Syaamil

selengkapnya...

Melakoni hidup kadang seperti kegiatan memancing ikan

"Melakoni hidup kadang seperti kegiatan memancing ikan. Semakin bagus umpan yang diberikan, kian cepat dan besar ikan yang didapat. Sayangnya, tak semua pemancing sadar kalau mengail ikan butuh keyakinan dan kesabaran."

(dakwatuna.com)

selengkapnya...

Rabu, November 12, 2008

Belajar dari pornografi

Beberapa hari lalu ketika semua media sedang menjual isu yang bernama "pornografi", saya mendapat pelajaran yang luar biasa.

saat itu ampir di semua media kita lihat selalu diberitakan tentang kontra-pro pengesahan RUU Pornografi, (saya sengaja tulis kata kontra sebelum pro karena kayaknya rata2 media, pemberitaannya banyak ke kontra daripada pro) demo2 kontra pengesahan lebih diekspose daripada demo pro pengesahan. suara2 masyarakat yang menyatakan kontra lebih diekspose ketimbang suara2 yang pro.

Melihat kondisi seperti itu teman2 mulai panik, sms maupun email mulai berkeliweran yang berisi seruan untuk ngirim sms, email sampai faks ke wakil2 rakyat yang isinya menunjukkan bahwa kita pro pengesahan. bahkan ada sebuah ormas yang sangat antipati terhadap dakwah di parlemen ternyata ikut2an demo ke DPR agar RUU nya segera disahkan

Pelajaran yang bisa kita ambil dari perjuangan kemarin, ternyata mau nggak mau kita harus akui strategisnya peran DPR/DPRD dalam menentukan mau dibawa kemana arah hukum dan undang2 positif kita.

Sebanyak2nya berita miring, penolakan2, demo2, opini2, jika kebanyakan wakil2 rakyat yang ada di DPR menyetujui sebuah RUU, maka nggak terlalu ada efeknya. Begitupun sebanyak2nya sms/email/faks/opini/ceramah/demo kita, jika wakil2 rakyat yang ada di DPR kebanyakan tidak setuju, paling kita cuma bisa mengelus dada dan cuma bisa menolak kemungkaran di depan mata kita hanya dengan hati.

Kasus hebohnya pornografi kemarin seharusnya membuka mata kita, bahwa kita tidak bisa tidak peduli terhadap wakil suara kita di DPR/DPRD. Semakin banyak orang2 baik disana, semakin mudahlah kita menyelaraskan hukum dan undang2 positif kita dengan ajaran Islam.

Bukankah penegakkan ajaran Islam dalam tataran hukum publik juga merupakan kewajiban? (lihat artikel saya sebelumnya, qishash=puasa) dan menurut Syaikh Al-'Utsaimin dalam kitabnya Prinsip Ilmu Ushul Fiqih: "Jika suatu perbuatan yang diperintahkan tidak bisa dikerjakan kecuali dengan sesuatu maka sesuatu tersebut adalah diperintahkan, jika yang diperintahkan adalah wajib maka sesuatu itu hukumnya juga wajib."

WaLLahu a'lam

selengkapnya...

Senin, November 10, 2008

Umur Ummul Mukminin Aisyah ra. Ketika Menikah Bukan 7 Tahun ..!

Pagi ini ketika membaca salah satu artikel di blognya iqro club kebayoran lama ada sebuah fakta baru yang saya dapatkan dan merupakan jawaban atas beberapa polemik yang sering dihembuskan musuh Alloh terhadap umur Ummul Mukminin Aisyah ra ketika dinikahi Rasulullah saw.

Ternyata beberapa riwayat yang menyatakan umur Aisyah ra saat menikah adalah 7 tahun dinilai lemah dan kontradiktif dengan beberapa riwayat lainnya. Salah satu kontradiksi yang disebutkan dalam artikel tersebut antara lain,

Menurut beberapa riwayat, Aisyah dilahirkan pada tahun ke delapan sebelum hijriyah. Tetapi menurut sumber lain dalam Bukhari, Aisyah tercatat mengatakan hal ini:
“Saya seorang gadis muda (jariyah dalam bahasa arab) ketika Surah Al-Qamar diturunkan.
(Sahih Bukhari, kitabu’l-tafsir, Bab Qaulihi Bal al-sa`atu Maw`iduhum wa’l-sa`atu adha’ wa amarr).
Surat 54 dari Quran diturunkan pada tahun ke delapan sebelum hijriyah (The Bounteous Koran, M.M. Khatib, 1985), menunjukkan bahwa surat tsb diturunkan pada tahun 614 M. jika Aisyah memulai berumahtangga dengan Rasulullah pada usia 9 di tahun 623 M or 624 M, Aisyah masih bayi yang baru lahir (sibyah in Arabic) pada saat Surah Al-Qamar diturunkan.
Menurut riwayat diatas, secara aktual tampak bahwa Aisyah adalah gadis muda, bukan bayi yang baru lahir ketika pewahyuan Al-Qamar.
Jariyah berarti gadis muda yang masih suka bermain (Lane’s Arabic English Lexicon). Jadi, Aisyah, telah menjadi jariyah bukan sibyah (bayi), jadi telah berusia 6-13 tahun pada saat turunnya surah Al-Qamar, dan oleh karean itu sudah pasti berusia 14-21 tahun ketika dinikah Nabi.


Untuk lebih jelasnya sahabat bisa langsung lihat artikelnya di sini
atau kalo mau lihat versi aslinya yang berbahasa inggris bisa klik di sini

selengkapnya...

Alhamdulillah, Ponakan Pertama Saya Sudah Lahir ...!

Semalam sekitar jam 21.00 wib, Alhamdulillah kakak ipar saya satu2nya melahirkan anak pertamanya di Jakarta. Bayinya perempuan dengan berat 3 kg dan panjang 48 cm.
Sayangnya saya belum bisa nengokin ponakan pertama saya itu, cukup doa singkat ini aja ya ^_^



selengkapnya...

Minggu, November 09, 2008

Iklan KPK

selengkapnya...

Penambah Ilmuku