Buat teman2 yang ingin membaca dan mempelajari Kitab Hadits Arba'in karya Imam Nawawi, silahkan klik link di bawah ini :
download eBook Hadits Arba'in
selengkapnya...
Selasa, November 25, 2008
Allah Gembira Dengan Taubat Hamba-Nya
Dari Abu Hamzah yaitu Anas bin Malik al-Anshari r.a., pelayan Rasulullah saw, katanya: Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Niscayalah Allah itu lebih gembira dengan taubat hambaNya daripada gembiranya seseorang dari engkau semua yang jatuh di atas untanya dan oleh Allah ia disesatkan di suatu tanah yang luas." (Muttafaq 'alaih)
Dalam riwayat Muslim disebutkan demikian:
"Niscayalah Allah itu lebih gembira dengan taubat hamba-Nya ketika ia bertaubat kepada-Nya daripada gembiranya seseorang dari engkau semua yang berada di atas untanya dan berada di suatu tanah yang luas, kemudian pergilah untanya itu dari dirinya, sedangkan di untanya itu ada makanan dan minumannya. Orang tadi lalu berputus-asa. Kemudian ia mendatangi sebuah pohon dan tidur berbaring di bawah naungannya, sedang hatinya sudah berputus asa sama sekali dari untanya tersebut. Tiba-tiba di kala ia berkeadaan sebagaimana di atas itu, untanya itu tampak berdiri di sisinya, lalu ia mengambil ikatnya. Oleh sebab sangat gembiranya maka ia berkata: 'Ya Allah, Engkau adalah hambaku dan aku adalah TuhanMu'. Ia menjadi salah ucapannya kerana amat gembiranya."
Keterangan:
Jadi kegembiraan Allah Ta'ala di kala mengetahui ada hambaNya yang bertaubat itu adalah lebih sangat dari kegembiraan orang yang tersebut dalam ceritera di atas itu.
(Hadits no. 15 kitab Riyadus Shalihin, Imam Nawawi) selengkapnya...
"Niscayalah Allah itu lebih gembira dengan taubat hambaNya daripada gembiranya seseorang dari engkau semua yang jatuh di atas untanya dan oleh Allah ia disesatkan di suatu tanah yang luas." (Muttafaq 'alaih)
Dalam riwayat Muslim disebutkan demikian:
"Niscayalah Allah itu lebih gembira dengan taubat hamba-Nya ketika ia bertaubat kepada-Nya daripada gembiranya seseorang dari engkau semua yang berada di atas untanya dan berada di suatu tanah yang luas, kemudian pergilah untanya itu dari dirinya, sedangkan di untanya itu ada makanan dan minumannya. Orang tadi lalu berputus-asa. Kemudian ia mendatangi sebuah pohon dan tidur berbaring di bawah naungannya, sedang hatinya sudah berputus asa sama sekali dari untanya tersebut. Tiba-tiba di kala ia berkeadaan sebagaimana di atas itu, untanya itu tampak berdiri di sisinya, lalu ia mengambil ikatnya. Oleh sebab sangat gembiranya maka ia berkata: 'Ya Allah, Engkau adalah hambaku dan aku adalah TuhanMu'. Ia menjadi salah ucapannya kerana amat gembiranya."
Keterangan:
Jadi kegembiraan Allah Ta'ala di kala mengetahui ada hambaNya yang bertaubat itu adalah lebih sangat dari kegembiraan orang yang tersebut dalam ceritera di atas itu.
(Hadits no. 15 kitab Riyadus Shalihin, Imam Nawawi) selengkapnya...
Selasa, November 18, 2008
Berkata Yang Baik Atau Diam
Mungkin teman2 pernah membaca/mendengar sebuah kisah hikmah tentang seorang anak pemarah. Dikarenakan sifat pemarah anaknya itu kemudian sang ayah mengajarkan sebuah hikmah. Sang anak diberikan sekantong paku yang harus ditancapkan ke pagar rumah mereka jika sang anak marah.
Beberapa hari kemudian pagar rumah mereka pun penuh dengan paku yang tertancap dan sang anak pun sadar. Dia kemudian menanyakan kepada ayahnya apa yang harus dilakukan. Sang ayah meminta anaknya untuk mencabuti paku2 itu setiap kali sang anak menyesal atas kemarahannya. Dicabutlah paku2 itu oleh sang anak hingga tidak ada lagi paku yang tertancap di pagar.
Kemudian sang ayah memberikan hikmah dari pelajaran yang diberikannya,"Wahai anakku, kamu telah berusaha keras dan belajar untuk tidak menancapkan paku lagi, bahkan kamu sudah mencabut semua paku yang pernah kamu tancapkan.Hanya saja lihatlah bekas lubang akibat paku yang kamu tancapkan, lubang-lubang tidak akan tertutup kembali seperti sedia kala"
Makna kisah ini adalah bahwa ketika kita marah, reaksi emosional kita secara tidak kita sadari akan membuat sebuah luka yang halus yang tak dapat disembuhkan di dalam hati orang lain. Tak peduli seberapa banyak kita meminta maaf, luka itu pasti akan meninggalkan bekas. Serangan lisan akan sama menyakiti bahkan lebih manyakitkan daripada serangan fisik.
Benar sekali nasihat RasuluLLah saw, "Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia berkata baik atau diam ..."(HR Bukhari dan Muslim)
AstaghfiruLLah, entah sudah berapa banyak orang yang tersakiti lisanku.
Mbah, Bapak, Ibu, Mas, Istriku, Zahid, Sahabat, Teman2, Semuanya ... Maafkanlah lisanku ini jika telah banyak menyisakan luka yang dalam.
Palu, pagi hari tgl 19-11-08
setelah sedih dan kaget membaca komentar kasar tentang Ust Anis Matta
selengkapnya...
Beberapa hari kemudian pagar rumah mereka pun penuh dengan paku yang tertancap dan sang anak pun sadar. Dia kemudian menanyakan kepada ayahnya apa yang harus dilakukan. Sang ayah meminta anaknya untuk mencabuti paku2 itu setiap kali sang anak menyesal atas kemarahannya. Dicabutlah paku2 itu oleh sang anak hingga tidak ada lagi paku yang tertancap di pagar.
Kemudian sang ayah memberikan hikmah dari pelajaran yang diberikannya,"Wahai anakku, kamu telah berusaha keras dan belajar untuk tidak menancapkan paku lagi, bahkan kamu sudah mencabut semua paku yang pernah kamu tancapkan.Hanya saja lihatlah bekas lubang akibat paku yang kamu tancapkan, lubang-lubang tidak akan tertutup kembali seperti sedia kala"
Makna kisah ini adalah bahwa ketika kita marah, reaksi emosional kita secara tidak kita sadari akan membuat sebuah luka yang halus yang tak dapat disembuhkan di dalam hati orang lain. Tak peduli seberapa banyak kita meminta maaf, luka itu pasti akan meninggalkan bekas. Serangan lisan akan sama menyakiti bahkan lebih manyakitkan daripada serangan fisik.
Benar sekali nasihat RasuluLLah saw, "Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia berkata baik atau diam ..."(HR Bukhari dan Muslim)
AstaghfiruLLah, entah sudah berapa banyak orang yang tersakiti lisanku.
Mbah, Bapak, Ibu, Mas, Istriku, Zahid, Sahabat, Teman2, Semuanya ... Maafkanlah lisanku ini jika telah banyak menyisakan luka yang dalam.
Palu, pagi hari tgl 19-11-08
setelah sedih dan kaget membaca komentar kasar tentang Ust Anis Matta
Labels:
just Hikmah,
just Kajian
Senin, November 17, 2008
Sejarah Menurut Ust Anis Matta
Sejarah jangan dibaca sebagai dendam pada masa lalu, usaha menuntaskan pembalasan dendam, dan usaha membalaskan dendam. Bangsa ini tak akan pernah menjadi bangsa besar kalau anak bangsa membaca sejarah bangsa ini sebagai sejarah dendam. Sebab, membaca sejarah dengan dendam, mendorong lahirnya dendam baru yang terus berulang.
”Akan lahir sebuah proses regenerasi dendam dalam episode yang tidak berkesudahan dan menghabiskan energi bangsa ini,” ujar Sekretaris Jenderal Partai Keadilan Sejahtera (PKS) M Anis Matta dalam diskusi tentang tokoh dan dendam sejarah di Jakarta, Minggu (16/11).
”Sejarah pahlawan kita bukanlah sejarah malaikat yang bebas cacat dan bukan pula cerita tentang manusia sempurna. Pahlawan bangsa kita hanyalah manusia biasa yang berusaha melakukan pekerjaan luar biasa bagi bangsa dan negara,” ujarnya.
Sejarah pahlawan, menurut Anis, merupakan pergulatan kemanusiaan yang penuh haru biru dan yang harus dibaca dengan kacamata kemanusiaan yang jujur dan adil, bebas dari dendam. Hanya dengan begitu, sejarah bangsa ini bisa menjadi cermin pembelajaran bagi generasi baru untuk melangkah ke depan.
”Pembelajaran antargenerasilah yang membuat sejarah kita sebagai bangsa tersambung sebagai sebuah mata rantai antargenerasi yang saling mengisi. Sebab, peradaban besar adalah karya bersama seluruh generasi dan bukan kerja satu orang dan yang bisa diselesaikan dalam semalam,” ujarnya lagi.
(kompas 17 Nopember 2008 halaman 2)
selengkapnya...
”Akan lahir sebuah proses regenerasi dendam dalam episode yang tidak berkesudahan dan menghabiskan energi bangsa ini,” ujar Sekretaris Jenderal Partai Keadilan Sejahtera (PKS) M Anis Matta dalam diskusi tentang tokoh dan dendam sejarah di Jakarta, Minggu (16/11).
”Sejarah pahlawan kita bukanlah sejarah malaikat yang bebas cacat dan bukan pula cerita tentang manusia sempurna. Pahlawan bangsa kita hanyalah manusia biasa yang berusaha melakukan pekerjaan luar biasa bagi bangsa dan negara,” ujarnya.
Sejarah pahlawan, menurut Anis, merupakan pergulatan kemanusiaan yang penuh haru biru dan yang harus dibaca dengan kacamata kemanusiaan yang jujur dan adil, bebas dari dendam. Hanya dengan begitu, sejarah bangsa ini bisa menjadi cermin pembelajaran bagi generasi baru untuk melangkah ke depan.
”Pembelajaran antargenerasilah yang membuat sejarah kita sebagai bangsa tersambung sebagai sebuah mata rantai antargenerasi yang saling mengisi. Sebab, peradaban besar adalah karya bersama seluruh generasi dan bukan kerja satu orang dan yang bisa diselesaikan dalam semalam,” ujarnya lagi.
(kompas 17 Nopember 2008 halaman 2)
selengkapnya...
Labels:
just Hikmah,
just News
Berbuat Baik Dengan Pamrih
suatu ketika saat saya sekolah dulu seorang guru pernah membuat pernyataan yang kontroversial di depan kami.
"kita itu setiap melakukan sesuatu harus mengharapkan pamrih. sebenarnya yang diajarkan di pelajaran PMP (pendidikan moral pancasila) itu salah, masa kalo kita berbuat baik kita harus berbuat baik tanpa pamrih, rugi lah"
saya dan teman2 satu kelas pun bingung mendengar pernyataan guru kami itu, karena selama ini guru2 yang lain selalu menekankan agar setiap kali kita berbuat baik pada orang lain jangan pernah mengharap pamrih atau balas jasa.
"menurut saya, setiap kali kita berbuat baik kepada orang lain kita harus mengharapkan pamrih, agar kita bersemangat untuk berbuat kebaikan, dan itu wajar. tapi pamrihnya bukan dari manusia, pamrih yang kita harapkan adalah Ridho Allah swt." lanjut guru kami. selengkapnya...
"kita itu setiap melakukan sesuatu harus mengharapkan pamrih. sebenarnya yang diajarkan di pelajaran PMP (pendidikan moral pancasila) itu salah, masa kalo kita berbuat baik kita harus berbuat baik tanpa pamrih, rugi lah"
saya dan teman2 satu kelas pun bingung mendengar pernyataan guru kami itu, karena selama ini guru2 yang lain selalu menekankan agar setiap kali kita berbuat baik pada orang lain jangan pernah mengharap pamrih atau balas jasa.
"menurut saya, setiap kali kita berbuat baik kepada orang lain kita harus mengharapkan pamrih, agar kita bersemangat untuk berbuat kebaikan, dan itu wajar. tapi pamrihnya bukan dari manusia, pamrih yang kita harapkan adalah Ridho Allah swt." lanjut guru kami. selengkapnya...
Labels:
just Hikmah,
just My Story
Minggu, November 16, 2008
Usul Buat Para Panitia
"saya kalo denger kajian nggak pernah bisa fokus akh, harus sambil jagain anak" curhat seorang sahabat kepada saya sambil ngendong anaknya yang hampir satu tahun sekaligus mengawasi anaknya yang lain. memang kadang sahabat saya itu bergantian dengan istrinya untuk menjaga anak2nya setiap ada acara kajian.
"suara saya kalah ya dengan suara para penerus kita" canda seorang ustadz di depan micnya saat menjadi pembicara dalam sebuah kajian. volume suara sang ustadz (sudah menggunakan sound system) kalah keras dibandingkan suara anak2 peserta kajian yang sedang riang bercanda di ruangan tempat acara berlangsung.
Tiga tahun lalu, komen seperti ini hampir tidak pernah saya dengar, maklum saat itu acara kajian yang sering saya datangi kebanyakan hanya dihadiri mahasiswa dan pelajar. Jadi tidak pernah saya dengar teman yang curhat nggak fokus dengar kajian karena ngawasin anak atau ustadz yang suaranya dikalahkan suara para mujahid kecil.
Sekarang setelah jadi mantan mahasiswa dan jadi abii baru (baru satu tahun jadi abinya zahid) dimana acara kajian lebih banyak gabung dengan para abahat (?) dan ummahat, komen2 di atas sering mampir di telinga.
Jadi ada ide buat para panitia,
biar kasus di paragraf 1 dan 2 dapat diminimalisir
plus
di satu sisi kita tidak membumihanguskan potensi kreativitas dan kecerdasan anak2 kita,
bagaimana jika di setiap acara yang melibatkan banyak abahat (?) dan ummahat dibentuk seksi baru dalam kepanitian : "seksi pengasuh anak"
bukankah banyak akhwat yang menjadi guru tk atau play group? sekaligus buat sarana latihan para calon ummahat ^_^ selengkapnya...
"suara saya kalah ya dengan suara para penerus kita" canda seorang ustadz di depan micnya saat menjadi pembicara dalam sebuah kajian. volume suara sang ustadz (sudah menggunakan sound system) kalah keras dibandingkan suara anak2 peserta kajian yang sedang riang bercanda di ruangan tempat acara berlangsung.
Tiga tahun lalu, komen seperti ini hampir tidak pernah saya dengar, maklum saat itu acara kajian yang sering saya datangi kebanyakan hanya dihadiri mahasiswa dan pelajar. Jadi tidak pernah saya dengar teman yang curhat nggak fokus dengar kajian karena ngawasin anak atau ustadz yang suaranya dikalahkan suara para mujahid kecil.
Sekarang setelah jadi mantan mahasiswa dan jadi abii baru (baru satu tahun jadi abinya zahid) dimana acara kajian lebih banyak gabung dengan para abahat (?) dan ummahat, komen2 di atas sering mampir di telinga.
Jadi ada ide buat para panitia,
biar kasus di paragraf 1 dan 2 dapat diminimalisir
plus
di satu sisi kita tidak membumihanguskan potensi kreativitas dan kecerdasan anak2 kita,
bagaimana jika di setiap acara yang melibatkan banyak abahat (?) dan ummahat dibentuk seksi baru dalam kepanitian : "seksi pengasuh anak"
bukankah banyak akhwat yang menjadi guru tk atau play group? sekaligus buat sarana latihan para calon ummahat ^_^ selengkapnya...
Labels:
just My Story,
Just Nasihat
Kita Sedang Membangun Sebuah Peradaban
Ada tiga orang pekerja pengangkut batu pada proyek pembangunan piramid yang ditanya dengan pertanyaan yang sama, "apa yang sedang kamu kerjakan?"
Masing2 mereka memberikan jawaban yang berbeda. Pekerja pertama menjawab, "saya sedang membawa batu." sedangkan pekerja kedua menjawab, "saya sedang membangun piramid." dan pekerja ketiga menjawab, "saya sedang membangun peradaban."
Sebuah cerita motivasi yang kembali saya akses dari otak dalam saya setelah mendengar seminar Ustadz Cahyadi Takariawan pagi tadi. Kisah yang pernah diceritakan salah seorang dosen di kampus dulu, yang secara lembut mempengaruhi pemikiran saya sebagai seorang "pekerja".
Sebuah cerita yang dulu sering saya ceritakan kembali di depan adik2 peserta mentoring rohis SMK dan kampus untuk menularkan pemahaman saya bahwa rutinitas mentoring pekanan yang kami lakukan bukan hanya tempat ngobrol, curhat, atau diskusi, tapi tempat sebuah peradaban dibangun.
Dan hari ini, ketika membaca kembali salah satu buku yang paling saya cintai, "Bagaimana Menyentuh Hati" karya Abbas As-Siisi, di halaman awalnya terdapat sebuah nasihat indah Ustadz Hasan Al-Banna tentang sebuah asa,
"Saudaraku, janganlah engkau putus asa, karena putus asa bukanlah akhlak seorang muslim. Ketahuilah bahwa kenyataan hari ini adalah mimpi hari kemarin, dan impian hari ini adalah kenyataan di hari esok. Waktu masih panjang dan hasrat akan terwujudnya kedamaian masih tertanam dalam jiwa masyarakat kita, meski fenomena-fenomena kerusakan dan kemaksiatan menghantui mereka. Yang lemah tidak akan lemah sepanjang hidup-nya dan yang kuat tidak akan selamanya kuat." selengkapnya...
Masing2 mereka memberikan jawaban yang berbeda. Pekerja pertama menjawab, "saya sedang membawa batu." sedangkan pekerja kedua menjawab, "saya sedang membangun piramid." dan pekerja ketiga menjawab, "saya sedang membangun peradaban."
Sebuah cerita motivasi yang kembali saya akses dari otak dalam saya setelah mendengar seminar Ustadz Cahyadi Takariawan pagi tadi. Kisah yang pernah diceritakan salah seorang dosen di kampus dulu, yang secara lembut mempengaruhi pemikiran saya sebagai seorang "pekerja".
Sebuah cerita yang dulu sering saya ceritakan kembali di depan adik2 peserta mentoring rohis SMK dan kampus untuk menularkan pemahaman saya bahwa rutinitas mentoring pekanan yang kami lakukan bukan hanya tempat ngobrol, curhat, atau diskusi, tapi tempat sebuah peradaban dibangun.
Dan hari ini, ketika membaca kembali salah satu buku yang paling saya cintai, "Bagaimana Menyentuh Hati" karya Abbas As-Siisi, di halaman awalnya terdapat sebuah nasihat indah Ustadz Hasan Al-Banna tentang sebuah asa,
"Saudaraku, janganlah engkau putus asa, karena putus asa bukanlah akhlak seorang muslim. Ketahuilah bahwa kenyataan hari ini adalah mimpi hari kemarin, dan impian hari ini adalah kenyataan di hari esok. Waktu masih panjang dan hasrat akan terwujudnya kedamaian masih tertanam dalam jiwa masyarakat kita, meski fenomena-fenomena kerusakan dan kemaksiatan menghantui mereka. Yang lemah tidak akan lemah sepanjang hidup-nya dan yang kuat tidak akan selamanya kuat." selengkapnya...
Labels:
just Hikmah,
just Kajian
Langganan:
Komentar (Atom)
